Kiat-Kiat Menghadapi Fitnah

Bertubi-tubi fitnah datang menghampiri umat manusia sehingga menjadikan kaum muslimin sekarang dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Adakah solusi dari semua ini?! Apakah kiat-kiat yang semestinya dilakukan oleh seorang muslim untuk menghadapi fitnah tersebut?!
Jawaban pertanyaan ini dari dua segi:
 Secara global, solusi semua itu adalah dengan kembali kepada agama Islam dan mengamalkan ajaran-ajarannya.  Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di berkata di awal risalahnya yang berjudul “Ad-Diin Ash-Shohih Yahullu Jami’a Al-Masyakil” (Agama Yang Benar Merupakan Solusi Segala Problematika): “Inilah sebuah risalah yang berkaitan dengan agama Islam yang menunjukkan ajaran terbaik dan membimbing hamba dalam aqidah dan akhlak serta mengarahkan mereka menuju kebahagiaan di dunia dan akherat. Serta penjelasan yang gamblang bahwa tidak ada cara untuk memperbaiki umat sepenuhnya kecuali dengan Islam. Dan penjelasan bahwa semua undang-undang yang menyelisihi agama Islam tidak dapat memperbaiki dunia dan akherat kecuali apabila bersumber dari ajaran agam Islam.
Apa yang kami ungkapkan di atas telah dibuktikan kebenarannya oleh fakta dan pengalaman sebagaimana telah ditunjukkan kebenarannya oleh syari’at, fithrah dan akal yang sehat, karena agama ini seluruhnya adalah mengajak kepada kebaikan dan membendung kerusakan”.[2]
Adapun secara terperinci, ada bebarapa kiat dalam menghadapi fitnah yang sangat ditekankan oleh agama Islam[3]:

1. Taubat dan Kembali Kepada Agama Islam

                Wahai saudaraku, pernahkah terbesit dalam hati kita bahwa bencana yang menimpa bangsa saat ini adalah disebabkan perbuatan dosa agar kita segera menyadari dan kembali kepada ajaran agama yang suci?! Allah berfirman :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah nampak kerusakan di daratan dan lauatan disebabkan ulah perbuatan manusia. (Ar-Ruum : 41)
Alangkah benarnya ucapan Syaikh Ibnu Utsaimin tatkala berkata dalam khutbahnya tentang dampak kemaksiatan: “Demi Allah, sesungguhnya kemaksiatan itu sangat berpengaruh pada keamanan suatu negeri, kenyamanan, dan perekonomian rakyat. Sesungguhnya kemaksiatan menjadikan manusia saling bermusuhan antara satu dengan lainnya”. [4]
                Hasan al-Bashri berkata: “Ketahuilah –semoga Allah mengampunimu- bahwa kedhaliman pemimpin adalah sebagian di antara kemurkaan Allah, sedangkan kemurkaan Allah tidaklah diobati dengan pedang, tetapi diobati dengan do’a, taubat dan meninggalkan dosa”.[5]
                Demikianlah sikap terbaik mengatasi segala krisis dan bencana yang menyelimuti bangsa ini adalah dengan sabar, bertaubat kepada Allah dari segala dosa serta memperbaiki diri kita serta keluarga kita dengan aqidah shohihah dan membersihkan diri kita dari segala noda kesyirikan dan kebid’ahan.

 2. Taqwa, taat pemimpin dan berpegang pada sunnah

     Tiga hal tersebut terkumpul dalam hadits Nabi:
عَنِ اْلعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ قَالَ: صَلَّى لَنَا رَسُوْلُ اللهِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيْغَةً, ذَرِفَتْ لَهَا اْلأَعْيُنُ وَ وَجِلَتْ مِنْهَا اْلقُلُوْبُ. قُلْنَا أَوْ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ, كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا! أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَ اْلسَّمْعِ وَ اْلطَّاعَةِ وَ إِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا, فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى بَعْدِيْ اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا, فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَ سُنَّةِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اْلمَهْدِيِّيْنَ وَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ, وَ إِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَ إِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Dari Irbadz  bin Sariyah, berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat mengimami kami lalu beliau menhadap kami dan menasehati kami dengan nasehat yang mendalam, air mata kami menetes olehnya dan hati kami terenyuh dibuatnya. Kami atau mereka berkata, “Ya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sepertinya ini nasehat orang yang berpamitan, maka berilah kami nasehat.” Beliau berkata, “Aku wasiatkan kepada kalian dengan taqwa kepada Alloh Subhanahu wa ta’ala dan mendengar serta taat (kepada pemimpin) sekalipun dia adalah budak  Habsyi (orang hitam). Sesungguhnya orang yang hidup dari kalian, niscaya dia akan mendapati setelahku perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur yang lurus dan mendapat petunjuk, gigitlah dengan gigi gerahammu (peganglah kuat-kuat). Dan hati-hatilah dari perkara-perkara yang baru, (dalam ibadah), sesungguhnya setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”[6]
           Dalam hadits ini, Nabi menjelaskan penyakit fitnah dan obatnya, yaitu dengan:
  1. Bertaqwa kepada Allah, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan hambaNya yang bertaqwa kepadaNya. Tholq bin Habib pernah menasehatkan kepada Bakr bin Abdillah tatkala berkecamuk fitnah Ibnul Asy’ats: “Hadapilah dengan taqwa, yaitu engkau mengamalkan ketaatan kepada Allah di atas cahaya Allah dengan mengharapkan pahala Allah, dan engkau meninggalkan kemaksiatan di atas cahaya Allah karena takut siksa Allah”.[7]
  2. Taat kepada pemimpin dan tidak memberontak mereka sebagaimana sangat ditekankan oleh agama Islam, karena dengan demikian akan terwujudkan keamanan dan ketentraman negara. Sebaliknya, dengan melalaikan hal ini akan membawa keburukan dan kerusakan sebagaimana terbukti dalam sejarah sepanjang zaman. Abdullah bin Mubarok berkata: “Barangsiapa meremehkan ulama maka akheratnya hancur dan barangsiapa meremehkan pemimpin maka dunianya akan hancur”.[8]
  3. Berpegang kepada sunnah dan sunnah para khalifah setelah beliau, karena dia akan mengikuti petunjuk-petunjuk Nabi dalam menghadapi fitnah sehingga akan tegar dan selamat. Dan perhatikanlah Nabi mengiringkan sunnah beliau dengan sunnah para khalifah rasyidin sebagai isyarat kepada pentingnya pemahaman salaf shalih dalam memahami Al-Quran dan Sunnah.

 3. Doa

           Doa merupakan senjata seorang mukmin, apalagi saat fitnah yang sangat membutuhkan pertolongan dan hidayah dari Allah. Allah telah memerintahkan hal ini dalam firmanNya:
È@è% §Nßg¯=9$# tÏÛ$sù ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur zNÎ=»tã É=ø‹tóø9$# Íoy‰»pk¤¶9$#ur |MRr& â/ä3øtrB tû÷üt/ x8ÏŠ$t6Ïã ’Îû $tB (#qçR%x. ÏmŠÏù šcqàÿÎ=tGøƒs† ÇÍÏÈ  
Katakanlah: “Wahai Allah, Pencipta langit dan bumi, yang mengetahui barang ghaib dan yang nyata, Engkaulah yang memutuskan antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang selalu mereka memperselisihkannya.” (QS. Az-Zumar: 46)
           Para salaf telah menerapkan obat ini pada diri mereka saat fitnah.  Abdullah bin Amir bin Rabi’ah berkata: “Tatkala manusia banyak mencela Utsman, maka ayahku (sahabat Amir bin Rabi’ah) melakukan sholat malam seraya berdoa: “Ya Allah, jagalah diriku dari fitnah sebagaimana Engkau menjaga hamba-hambaMu yang shalih”. Maka ayahku tidak keluar (karena sakit) kecuali ketika meninggal dunia”.[9]

 4. Mengembalikan problematika kepada para ulama dan pemimpin

Hal ini untuk menjaga rakyat dari fatwa-fatwa sembarangan yang malah berakibat fatal dan membawa kepada kerusakan. Allah berfirman:
Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri (pemimpin dan ulama) di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu). (QS. An-Nisa’: 83)
           Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di berkata: “Dalam ayat ini terdapat kaidah adab bahwa ketika ada suatu permasalahan maka hendaknya diserahkan kepada ahli di bidangnya dan tidak mendahului mereka, karena hal itu akan lebih mendekati kebenaran dan lebih selamat dari kesalahan”.[10]
           Maka kembalikanlah kepada para ulama yang mengetahui wajah fitnah awal munculnya, berbeda dengan para pemuda ingusan yang tidak mengetahui wajah fitnah kecuali setelah nasi menjadi bubur!! Hasan Al-Bashri berkata: “Fitnah apabila pertama muncul maka diketahui oleh setiap alim, dan apabila telah selesai maka diketahui oleh setiap jahil”. [11]
           Aduhai, para pemuda dan para aktivis memperhatikan adab mulia ini, bukan malah mencela para ulama dan melarikan manusia dari mereka dengan gelar-gelar dan tuduhan-tuduhan mengerikan seperti: ulama pemerintahan, ulama Vatikan, ulama haidh dan nifas, ulama tidak mengerti waqi (realita umat), dan sebagainya!!

 5. Menjauhi fitnah dan tidak berkecimpung di dalamnya

           Sebagian orang terpedaya dengan dirinya sehingga dia merasa bahwa dirinya mampu mengatasi fitnah dan manusia sangat menanti geraknya dan lain sebagainya!! Rasulullah bersabda:
    سَتَكُونُ فِتَنٌ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ ، وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِى ، وَالْمَاشِى فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِى ، مَنْ تَشَرَّفَ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ ، فَمَنْ وَجَدَ فِيهَا مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِه
Akan terjadi fitnah, orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, orang yang berjalan lebih baik daripada yang berlari, barangsiapa yang mencari fitnah maka dia akan terkena pahitnya dan barangsiapa yang menjumpai tempat berlindung maka hendaknya dia berlindung.[12]
           Para ulama salaf-pun telah menerapkan hal dengan sikap-sikap yang sangat luar biasa. Sahabat Amir bin Rabi’ah tatkala terjadi fitnah Utsman beliau mengatakan kepada keluarganya: “Ikatlah aku dengan besi karena aku telah gila”. Tatkala Utsman telah terbunuh dia mengatakan: “Lepaskanlah aku, segala puji bagi Allah yang menyembuhkanku dari gila dan menyelamatkanku dari pembunuhan Utsman”.[13]
           Abdullah bin Hubairah berkata: “Barangsiapa mendapati fitnah maka hendaknya dia mematahkan kakinya, kalau dia masih berjalan maka hendaknya mematahkan kaki satunya lagi”. [14]
           Al-Aswad bin Sura’I tatkala terjadi fitnah di Bahsroh, beliau menaiki kapal di laut lalu tidak diketahui kabarnya setelah itu!![15]
           Sayyar bin Abdir Rahman berkata: “Para sahabat ahli Badar selalu di rumah mereka setelah terbunuhnya Utsman, mereka tidak keluar kecuali ke kuburan mereka”.[16]

6.Tenang dan tidak tergesa-gesa

             Karena tergesa-gesa dan emosi kerapkali membuat akal menjadi tak berfungsi lagi sehingga tak terkendali. Rasulullah bersabda:
 يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِى الأَمْرِ كُلِّهِ
Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam segala urusan.[17]
           Tatkala pemimpin Kufah sahabat Mughiroh bin Syu’bah meninggal dunia, maka Jarir bin Abdillah menenangkan manusia seraya mengatakan: “Hendaknya kalian bertaqwa kepada Allah semata dan tenang sehingga datang pemimpin kalian yang baru”.[18]
           Dan tatkala terbunuh Walid bin Yazid, maka A’masy menasehatkan kepada para sahabatnya: “Saya penasehat, hendaknya seorang menjaga tangannya, menahan lidahnya dan memperbaiki hatinya”.[19]
           Demikianlah beberapa kiat menghadapi fitnah. Kita berdoa kepada Allah agar menjaga kita semua dari fitnah, karena itu merupakan kebahagian seorang hamba.
           Diceritakan, bahwa sahabat Abu Usaid bersyukur kepada Allah tatkala dia buta sebelum melihat fitnah terbunuhnya Utsman. Setelah terbunuhnya Utsman, beliau mengatakan: “Segala puji bagi Allah menjadikan aku bisa melihat pada masa Nabi sehingga aku dapat melihat beliau dengan kedua mataku. Tatkala Allah mewafatkan NabiNya dan menghendaki fitnah kepada hambaNya, Allah membutakan diriku”.[20]
           Ya Allah, jauhkanlah kami dari fitnah! Ya Allah, jauhkanlah kami dari fitnah! Ya Allah, jauhkanlah kami dari fitnah! Ya Allah, tegarkanlah langkah kami dalam agamaMu sehingga kami bertemu denganMu!
 Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi[1]
====================================================================================
[1] Dinukil dari buku penulis yang berjudul “Demonstrasi, Solusi atau Polusi?” cet. Pustaka Darul Ilmu, Jakarta.
[2] Al-Majmu’ah Kamilah li Muallafat Syaikh As-Sa’di 1/333.
[3] Penulis banyak mengambil manfaat dari kitab Tamyiz Dhawil Fithon Abdul Malik Ramadhani hlm. 72-109.
[4] Atsarul Ma’ashi ‘alal Fardi wal Mujtama’, Ibnu Utsaimin hal. 20.
[5] Asy-Syari’ah oleh al-Ajurri hlm. 38.
[6] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 4/126-127, Abu Dawud 4607, Tirmidzi 2676, Ibnu Majah 42,43 dll, dishahihkan Al-Albani  dalam Irwaul Ghalil 2455. Lihat pula tulisan penulis tentang hadits ini “Wasiat Berharga” dalam Majalah Al Furqon, edisi 7, Tahun IV.
[7] Dikeluarkan Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhud 1054 dan al-Baihaqi dalam Az-Zuhud Al-Kabir 965.
[8] Dikeluarkan Abu Abdir Rahman as-Sulami dalam Adab Suhbah 41 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimsayq 32/444.
[9] Dikeluarkan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 1/178-179 dan Al-Hakim 3/358.
[10] Taisir Karimir Ar-Rahman hlm. 194, cet Dar Ibnul Jauzi.
[11] Dikeluarkan Bukhori dalam Tarikh Kabir 4/321.
[12] HR. Bukhori 3601 dan Muslim 2776.
[13] Dikeluarkan Ibnul Banna dalam Risalah Mughniyah fi Sukut wa Luzumil Bait 29.
[14] Dikeluarkan Nu’aim bin Hammad dalam Al-Fitan 509.
[15] Su’alat Al-Ajurri Abi Dawud hlm. 274.
[16] Dikeluarkan Al-Mu’afa dalam Az-Zuhud 48, Ibnu Syabbah dalam Tarikh Madinah 4/1242.
[17] HR. Muslim 2165.
[18] HR. Bukhori 58.
[19] Dikeluarkan Al-Khollal dalam As-Sunnah 91.
[20] Dikeluarkan Bukhori Tarikh Shoghir 1/107, Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa Tarikh 1/422, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimsyaq 39/482.

Hakekat Dunia…

Dunia ini hanyalah ‘tempat persinggahan’… Dunia ini hanya permainan dan hiburan yang melalaikan… Dunia ini penjara sementara seorang yang beriman… Dunia ini -baik itu sesuatu yang disenangi maupun yang dibenci- adalah ujian… Dunia itu sesaat, dan akan berakhir dengan kesirnaan… Tapi ingat pula, bahwa dunia juga ladang mempersiapkan bekal. Sungguh inilah hakekat kehidupan dunia, sebagaimana disebutkan dalam banyak firman Allah ta’ala dan sabda Rosulnya –shollallohu alaihi wasallam-, dan banyak manusia telah meyakininya, namun sayang banyak dari mereka yang tetap terlena dan tergoda.
              Oleh karena itu, hendaklah kita selalu mengingat firmanNya:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
Carilah bekal, sungguh sebaik-baik bekal adalah TAKWA. Dan bertakwalah kalian, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat [Albaqoroh: 197]
Ibnul Jauzi –rohimahulloh– mengatakan: Sungguh dungu, orang yang tidak tahu kapan ‘mati’ mendatanginya, tapi dia tidak menyiapkan diri untuk menghadapinya. Dan manusia paling tolol dan paling lalai adalah orang yang usianya sudah melewati 60 tahun dan mendekati 70 tahun, tapi dia tetap lalai tidak mempersiapkan diri, padahal usia antara 60 sampai 70 tahun adalah medan perang ‘hidup mati’, dan seharusnya orang yang terjun di medan perang itu menyiapkan dirinya. [Shoidul Khoothir, hal: 439]
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- telah menyabdakan:
أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ.
Umur umatku itu antara 60 sampai 70 tahun, dan sedikit orang yang melewati umur tersebut. [HR. Attirmidzi: 3550, dihasankan oleh Syeikh Albani]
Sungguh, tertawa panjang bagi orang tua sudah tidak begitu bermakna… candanya juga sudah terasa hambar…  Bahkan ketika dunia menawarkan dirinya, kekuatannya sudah melemah, dan khayalannya pun semakin pudar… Jika demikian, masih adakah tempat yang ‘mapan’ bagi orang yang berumur 60 tahun di dunia ini.
Lalu, bila dia ingin hidup hingga usia 70 tahun, dia tidak akan sampai kecuali dengan susah payah… Ketika jalan, dia akan terengah-engah… bila duduk, napasnya berat… Bila tidur, akan sering terjaga dan tidak bisa lelap… Dia melihat godaan dunia, tapi tidak kuasa menikmatinya… Kegiatan ini harus dijauhi, kegiatan itu harus dikurangi… Tidak  boleh makan ini dan itu… Dan apabila makan, banyak giginya yang sudah kosong, bahkan gigi yang masih menempel pun sudah banyak ‘bergoyang’… Bila makanan itu masuk, lambungnya sudah payah dan susah mencerna… Begitu pula punggungnya sudah rapuh, dan tubuhnya semakin meliuk… tulangnya rapuh dan ototnya loyo, sehingga seakan dia hidup sebagai tawanan.
Lalu, bila dia ingin hidup hingga usia 80 tahun, dia akan kembali merangkak seperti anak, banyak kehilangan memorinya, sering lupa, atau bahkan menjadi pikun, belum lagi banyak penyakit berkumpul ‘mengerumuninya’. Sungguh benar firman Allah ta’ala:
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً
Allah-lah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan kalian setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan kalian setelah keadaan kuat itu menjadi lemah dan beruban. [Arrum: 54]
وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا
Kami tetapkan dalam rahim janin yang kami kehendaki hingga waktu yang sudah ditentukan, kemudian kami keluarkan kalian sebagai bayi, kemudian kalian sampai kepada usia dewasa. Diantara kalian ada diwafatkan, dan diantara kalian ada yang dikembalikan kepada usia lanjut, sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang dahulu dia tahu. [Alhaj: 5]
Memang ada sebagian kecil orang yang keadaannya lebih baik dari yang penulis sebutkan di atas, tapi tetap saja tidak bisa dielakkan, bahwa semakin tua seseorang, semakin berat pula dia menjalani hidup ini. Persis seperti mobil, semakin tua semakin banyak kerusakan, dan akan semakin berat jalannya, lalu akhirnya teronggok sebagai barang rongsokan.
Maka, orang yang cerdas adalah orang yang paham benar akan nilai sebuah waktu, karena sebelum baligh, dia hanya seorang anak yang umurnya tidak begitu diperhitungkan. Yang dipikirkannya hanya bermain dan mainan, dia tidak memiliki arah yang jelas, dan belum ada kemampuan akal maupun okol yang mencukupi, sehingga dia harus bergantung kepada orang lain. Oleh karena itu, bila sudah baligh, hendaklah dia sadar bahwa masa itu merupakan masa perjuangan melawan hawa nafsu dan menuntut berbagai ilmu pengetahuan, terutama Ilmu Agama.


Lalu, bila dia sudah dikaruniai anak, maka hendaklah dia sadar bahwa itulah masanya berusaha dan bekerja, sambil menjalin hubungan baik dengan orang-orang di sekitarnya, yang akan berguna baginya dalam mengarungi sisa umurnya, baik dalam urusan dunia maupun akhiratnya.
Lalu, bila dia sudah sampai umur 40 tahun, maka selesailah puncak hidupnya, ia telah menghabiskan masa kuatnya, dan tidaklah tersisa baginya, kecuali keadaan dirinya yang terus menurun. Maka, hendaklah di usia tersebut, dia menjadikan sebagian besar perhatiannya untuk ‘bekal akhirat’, dan mempersiapkan diri untuk detik perpisahan.
Jika kita merenungi hal ini, sebenarnya pesan ini juga harusnya diterapkan oleh mereka yang masih muda, karena kematian bisa datang dengan tiba-tiba.
Lalu, apabila seseorang sampai pada umur 60 tahun, itu artinya Allah sudah memberinya banyak tenggang waktu, dan dia telah menghabiskan waktu tersebut, maka hendaklah dia fokus total untuk mengumpulkan ‘bekal akhiratnya’, apalagi bila kekuatannya semakin lemah. Dan semakin tua umurnya, hendaklah dia semakin giat dalam amalnya.
Lalu, apabila dia sudah masuk umur 80 tahun, maka yang tersisa baginya hanyalah pilihan ‘perpisahan’, karena kehidupan sudah sangat berat baginya, jasadnya sudah rapuh dan banyak penyakit terus menggerogotinya. Ketika itu tidaklah tersisa dari umurnya kecuali rasa penyesalan atas kelalaiannya, karena kalaupun dia saat itu masih mampu beribadah, dia tidak mampu melakukannya kecuali dengan keadaan yang sudah sangat lemah, payah, dan kurang maksimal.
              Semoga Allah menjadikan kita selalu ingat akan hakekat kehidupan ini, menjauhkan kita dari terlelap dalam kelalaian, dan memberikan kita taufiq untuk bisa beramal saleh, yang akan menjadikan kita aman dari penyesalan di hari ‘perpindahan’ itu, Sungguh Dialah Yang Maha Pemberi Taufiq.
              Para pembaca yang terhormat, bila kita telah menyadari hal ini, bahwa kita tidak akan lama di dunia ini, bahwa langkah kita terpaksa akan terhenti dengan kematian, padahal umur alam semesta mungkin masih akan panjang, maka tidakkah kita ingin memiliki pahala yang terus mengalir ke liang kubur kita hingga hari kiamat?!
             Penulis yakin kita semua menginginkannya, oleh karena itu, hendaklah kita memperbanyak 3 amalan berikut ini, atau paling tidak jangan sampai melewatkannya dalam hidup ini. Amalan-amalan tersebut terkandung dalam sabda Nabi –shollallohu alaihi wasallam– yang sangat masyhur berikut ini:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Bila manusia mati, putuslah semua amalnya kecuali 3 amalan: Sedekah Jariyah (wakaf), atau ilmu agama yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya. [HR. Muslim: 1631]
Sekian, semoga bermanfaat.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين
Madinah, 18 Rabiul Awal 1435 H / 19 Januari 2014 M
Sumber : https://addariny.wordpress.com/2014/01/19/hakekat-dunia/





Kemewahan itu Membinasakan…

Syeikh Utsaimin –rohimahulloh– mengatakan:
Sungguh, semakin manusia bertambah dalam kemewahan, dan semakin terbuka terhadap yang lain, maka keburukan-keburukan juga semakin terbuka bagi mereka. Sungguh, kemewahan itulah yang membinasakan manusia, karena bila seseorang sudah mementingkan kemewahan dan pemanjaan jasadnya, ia tentu lalai dalam memanjakan hatinya, sehingga jadilah keinginan terbesarnya memanjakan jasad tersebut, padahal jasad itu akan berakhir dengan belatung dan kebusukan. Ini musibah.
Inilah yang membinasakan manusia hari ini. Hampir tidak kamu dapati seorang pun, kecuali ia mengatakan: bagaimana rumah kita, apa mobil kita, apa karpet kita, apa makanan kita? Sampai-sampai orang yang menelaah dan belajar ilmu agama pun, sebagian ada yang belajar untuk meraih pangkat atau kedudukan yang bisa menyampaikannya kepada kenikmatan dunia. Sepertinya manusia diciptakan bukan untuk tujuan yang agung, dunia dan kenikmatannya hanyalah wasilah (perantara)! semoga Allah menjadikan kami dan kalian dapat menjadikan dunia sebagai wasilah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rohimahulloh– mengatakan: “Hendaknya seseorang menggunakan hartanya, seperti ia menggunakan himar untuk tunggangan, seperti ia menggunakan toilet untuk buang hajat”. Lihatlah bagaimana orang-orang yang tahu (hakekat) harta, orang-orang yang tahu kedudukan harta.
Jangan jadikan harta sebagai tujuan utama (hidup)mu! Tunggangilah harta dunia, karena bila kamu tidak menungganginya, harta itu yang akan menunggangimu, sehingga jadilah tujuan (hidup)mu harta. Oleh karena itu, kita katakan: Sungguh, semakin terbuka harta dunia untuk manusia dan mereka jadi (terlena) melihat harta itu, maka mereka akan rugi dari akheratnya sebanding dengan keuntungan yang diperoleh dari dunianya.
Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda: 
 “
“Demi Allah, bukan kefakiran yang aku takutkan terhadap kalian, tapi yang aku takutkan terhadap kalian adalah; bila dunia dibukakan untuk kalian, sehingga kalian saling berlomba mendapatkannya, sebagaimana umat sebelum kalian saling berlomba di dalamnya, lalu dunia itu membinasakan kalian sebagaimana dunia itu telah membinasakan mereka.
Dan benarlah Rosul –shollallohu alaihi wasallam-, inilah yang membinasakan manusia sekarang ini.
Yang membinasakan manusia hari ini adalah saling berlomba mendapatkan dunia, hingga seakan mereka diciptakan untuk dunia, bukan dunia diciptakan untuk mereka. Sehingga mereka bekerja demi dunia yang diciptakan untuk mereka, dan meninggalkan perkara yang mereka diciptakan untuknya. Ini merupakan keadaan yang terbalik, semoga Allah menyelamatkan kita (dari keadaan ini).
فإن الناس كلما ازدادوا في الرفاهية, وكلما انفتحوا على الناس, انفتحت عليهم الشرور. إن الرفاهية هي التي تدمر الإنسان, لأن الإنسان إذا نظر إلى الرفاهية وتنعيم جسده, غفل عن تنعيم قلبه، وصار أكبر همه أن ينعم هذا الجسد الذي مآله إلى الديدان والنتن, وهذا هو البلاء, هذا هو الذي ضر الناس اليوم, لا تكاد تجد أحدا إلا ويقول: وش قصرنا , وش سيارتنا, وش فرشنا, وش أكلنا, حتى الذين يقرؤون العلم ويدرسون العلم بعضهم إنما يدرس من أجل أن ينال رتبة أو مرتبة يتوصل بها إلى نعيم الدنيا. ما كأن الإنسان خلق لأمر عظيم، والدنيا ونعيمها إنَّما هو وسيلة فقط، نسأل الله أن يجعلنا وإياكم أن نستعملة وسيلة. 
قال شيخ الإسلام ابن تيمية -رحمه الله-: “ينبغي للإنسان أن يستعمل المال كما يستعمل الحمار للركوب، وكما يستعمل بيت الخلاء للغائط”.
وش اللي يعرفون المال, يعرفون قدره. لا تجعل المال أكبر همك، اركب المال، فإن لم تركب المال؛ ركبك المال، وصار همك هو الدنيا.
ولهذا نقول: إنَّ الناس كلما انفتحت عليهم الدنيا، وصاروا ينظرون إليها؛ فإنَّهم يخسرون من الآخرة بقدر ما ربحوا من الدنيا، قال النبي عليه الصلاة والسلام: (والله ما الفقر أخشى عليكم، وإنَّما أخشى عليكم أن تُفْتَح عليكم الدنيا، فتنافسوها كما تنافسها من قبلكم، فتهلككم كما أهلكتهم)، وصدق الرسول -عليه الصلاة السلام- هذا الذي أهلك الناس اليوم. الذي أهلك الناس اليوم التنافس في الدنيا وكونهم كأنما خُلِقوا لها، لا أنَّها خُلِقت لهم، فاشتغلوا بما خُلِق لهم عما خُلِقوا له، وهذا من الانتكاس -نسأل الله العافية-
===========================
Kemewahan memang dapat membinasakan manusia, ia telah banyak menjerumuskan umat-umat terdahulu dalam kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran dakwah para rosul –alaihimussalam-, maka hendaklah kita berhati-hati dan mewaspadai hal ini.
Renungkanlah firman-firman Allah berikut ini:
وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ (116) وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ (117)
Orang-orang yang zalim itu mementingkan kemewahan yang ada pada mereka, dan mereka itu orang-orang yang berdosa. Rabbmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. (Hud: 116-117)
وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا (16)
Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan mereka yang hidup mewah di negeri itu (agar taat kepada Allah), maka mereka pasti durhaka di dalamnya, sehingga pantas berlaku baginya ketentuan (hukuman) Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (Al-Isro’: 16)
فَلَمَّا أَحَسُّوا بَأْسَنَا إِذَا هُمْ مِنْهَا يَرْكُضُونَ (12) لَا تَرْكُضُوا وَارْجِعُوا إِلَى مَا أُتْرِفْتُمْ فِيهِ وَمَسَاكِنِكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْأَلُونَ (13) قَالُوا يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ (14)
Maka, ketika mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka lari kalang-kabut dari negerinya itu. (Dikatakan kepada mereka): Janganlah kalian lari kalang-kabut, kembalilah kepada kemewahan yg diberikan kepada kalian dan ke rumah-rumah kalian, agar (nantinya) kalian dapat ditanya. Mereka berkata: “Betapa celaka kami! sungguh kami orang-orang yang zalim”. [Al-Anbiya’: 12-14]
وَقَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِلِقَاءِ الْآخِرَةِ وَأَتْرَفْنَاهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا مَا هَذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُونَ مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُونَ (33)
Para pemuka kaumnya (Nabi Hud) yang kafir, yang mendustakan pertemuan hari akhir, dan yang telah Kami mewahkan dalam kehidupan dunia mengatakan: “Orang ini hanyalah manusia seperti kalian, dia makan dari apa yang kalian makan, dan minum dari apa yang kalian minum”. (Al-Mu’minun: 33)
بَلْ قُلُوبُهُمْ فِي غَمْرَةٍ مِنْ هَذَا وَلَهُمْ أَعْمَالٌ مِنْ دُونِ ذَلِكَ هُمْ لَهَا عَامِلُونَ (63) حَتَّى إِذَا أَخَذْنَا مُتْرَفِيهِمْ بِالْعَذَابِ إِذَا هُمْ يَجْأَرُونَ (64) لَا تَجْأَرُوا الْيَوْمَ إِنَّكُمْ مِنَّا لَا تُنْصَرُونَ (65) قَدْ كَانَتْ آيَاتِي تُتْلَى عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ تَنْكِصُونَ (66) مُسْتَكْبِرِينَ بِهِ سَامِرًا تَهْجُرُونَ (67) 
Tetapi hati orang-orang kafir itu dalam kesesatan dari (memahami kenyataan) ini, dan mereka mempunyai kebiasaan banyak mengerjakan perbuatan-perbuatan buruk yang terus mereka lakukan. Sehingga apabila Kami timpakan azab kepada orang-orang yang hidup mewah di antara mereka, seketika itu mereka memekik minta tolong.
(Dikatakan kepada mereka): Janganlah kalian memekik minta tolong pada hari ini. Karena kalian tidak akan mendapat pertolongan dari Kami. Sungguh, ayat-ayat-Ku selalu dibacakan kepada kalian, tapi kalian selalu berpaling ke belakang, dengan menyombongkan diri dan mengucapkan banyak perkataan keji terhadapnya di waktu kamu bercakap-cakap di malam hari. (Al-Mu’minun: 63-67)
وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ (34) وَقَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (35)
Setiap Kami mengutus seorang pemberi peringatan ke suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sungguh, kami mengingkari apa yang kalian diutus untuk menyampaikannya”. Mereka juga mengatakan: “Kami punya lebih banyak harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sama sekali tidak akan di azab” (Saba’: 34-35)
وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ (23) قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَى مِمَّا وَجَدْتُمْ عَلَيْهِ آبَاءَكُمْ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ (24) فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (25)
Demikianlah, setiap Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum kamu ke suatu negeri, mereka yang hidup mewah di negeri itu selalu berkata: “Sungguh, kami mendapati nenek-moyang kami menganut suatu agama. Dan sungguh, kami sekedar pengikut jejak-jejak mereka”.
(Rasul itu) berkata: “Apakah (kalian akan mengikuti mereka juga), sekalipun aku membawa untuk kalian (agama) yang lebih lurus, daripada apa yang kalian dapati dari agama yang dianut oleh nenek-moyang kalian?!”
Mereka menjawab: “Sungguh kami mengingkari agama yang kalian diutus untuk menyampaikannya”.
Karena itu, Kami binasakan mereka. Maka, perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (kebenaran). (Az-Zukhruf: 23-25)
وَأَصْحَابُ الشِّمَالِ مَا أَصْحَابُ الشِّمَالِ (41) فِي سَمُومٍ وَحَمِيمٍ (42) وَظِلٍّ مِنْ يَحْمُومٍ (43) لَا بَارِدٍ وَلَا كَرِيمٍ (44) إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُتْرَفِينَ (45) 
Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya mereka itu? Mereka dalam (siksaan) angin yang sangat panas dan air yang mendidih, dalam naungan asap yang hitam, tidak sejuk dan tidak menyenangkan. Sungguh, mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah. (Al-Waqi’ah: 41-45)
Memang, ketika orang sampai pada taraf ‘kemewahan’, maka kemewahan tersebut akan menyeretnya ke dalam tindakan tinggi hati, memandang remeh orang lain, kurang menghormati orang di sekitarnya, dan kurang merendah kepada Penciptanya. Bahkan mungkin dia lupa sama-sekali dengan Allah Sang Pencipta, karena keadaannya yang dapat melakukan ‘apapun’ yang dia inginkan.
Sehingga ia akan menolak nasehat apapun dan dari mana pun, karena ia merasa tidak memerlukan orang lain, bahkan justru orang lainlah yang memerlukan dia. Dan inilah ‘perangkap mematikan’ hidup mewah, dengan inilah umat-umat terdahulu dibinasakan, sebagaimana ditegaskan dalam ayat-ayat suci di atas.
Oleh karena itu, hendaklah kita menjauhi hidup mewah, dan berusaha untuk selalu hidup sederhana. Bila ada harta melimpah, maka hendaklah kita gunakan untuk amal-amal kebaikan, seperti: membantu dakwah Islam, menjamin kehidupan para da’i, memberi sumbangan wakaf, menyantuni anak yatim, memberi fakir miskin, membantu mereka yang membutuhkan, membangun masjid, mendirikan pondok, sekolah, dan seterusnya.
Ingatlah, bahwa itu semua tidak akan terbuang sia-sia, tapi Allah akan simpan dan lipat-gandakan pahalanya di sisi-Nya, sehingga menjadi tabungan pahala bagi pelakunya di akherat kelak, dan itu akan menjadi kenikmatan yang abadi selamanya.
Jangan sampai kita susah-payah mengumpulkan harta dunia, namun akhirnya harta tersebut hanya menumpuk untuk dibagi ketika sudah menjadi warisan. Sungguh sangat merugi orang seperti ini, dia yang susah-payah di dunia dalam mengumpulkannya, tapi ternyata ahli warisnya yang menikmatinya. Dia yang mempertanggung-jawabkan harta tersebut di akhirat kelak, padahal dia belum sempat menikmati hasilnya di dunia.
Semoga Allah menyelamatkan kita dari gaya hidup mewah ini, dan semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua, sehingga kita dapat memanfaatkan kenikmatan apa pun yang dititipkan Allah kepada kita untuk meraih ridho dan kemuliaan di sisi-Nya. Sungguh, Allah ta’ala itu dekat, Maha Mengetahui, Maha Mendengar, dan Maha Kuasa mengabulkan doa.
Wallohu a’lam, semoga bermanfaat.
وصلى الله وسلم وبارك على عبد الله ورسوله نبينا محمد, وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين, والحمد لله رب العالمين
Sumber : https://addariny.wordpress.com/2014/01/09/kemewahan-itu-membinasakan/







"Inilah Jalanku!”

Abu Khaulah Zainal Abidin

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ
وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
(Artinya: Katakanlah: “Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku menyeru kepada ALLAH dengan keterangan yang nyata. Maha Suci ALLAH dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.”) (Yusuf: 108)
Inilah jalanku…
Ya, satu lagi perintah ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa yang wajib kutunaikan, mengikuti cara Sang Kekasih ALLAH di dalam berda’wah. Jalan yang juga ditempuh oleh orang-orang yang pertama-tama beriman, yang ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa pilih untuk hidup menyertai kekasih-Nya –Shallallahu alaihi wa sallam-., yakni jalannya para Shahabat –radhiallahu anhum-. Sedangkan siapa saja yang mengkhianati Ar-Rasul, berpaling, dan menempuh selain jalan mereka ini, akan ALLAH abaikan ke mana saja ia mau melangkah -tanpa mereka sadari-:
سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لا يَعْلَمُونَ
(Artinya: “…akan kami tarik berangsur-angsur mereka (-kepada kebinasaan-) dari arah yang tak mereka ketahui.”) (Al Qalam: 44)
sehingga berujung di jahanam sebagai tempat kembalinya.
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ
نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيراً
(Artinya: “Dan barang siapa yang menentang Ar-Rasul setelah jelas kebenaran baginya ,dan mengikuti selain jalan orang beriman, Kami akan biarkan mereka ke mana saja mereka berpaling, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Dan Jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.”) (An-Nisaa':115)
Inilah jalanku…
Ya, satu-satunya jalan yang dulu pernah Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– gambarkan dalam bentuk sebuah garis, seraya membacakan :
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ
(Artinya:”Dan inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah oleh kalian...”)(Al An’aam: 153)
Ya, satu jalan lurus tak bercabang, apalagi berbilang. Satu jalan yang ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa pun mengatakan sebagai jalan-Nya. Yang paling sedikit tujuh belas kali dalam sehari aku senantiasa memohon agar ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa menunjukinya kepadaku dan membimbingku kepadanya.
Inilah jalanku….
Ya, ketika aku hendak mengenal rabb-ku, berangkatlah aku dengan menempuh jalan ini. Dan mustahil aku mengenal rabb-ku seandainya yang kutempuh adalah jalan selain yang telah ditempuh oleh generasi-generasi terbaik dari umat ini, yakni yang hidup di zaman beliau –Shallallahu alaihi wa sallam-, di zaman sesudahnya, dan sesudahnya. Juga mustahil aku mengenal rabb-ku, seandainya yang kutempuh hanya dengan mengenal diri, sebagaiman kata orang -dan ini bukan perkataan Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– : “Man arrafa nafsahu faqod arrafa rabbahu.”
Maka ALLAH yang kukenal sama dengan yang mereka kenal. Yakni ALLAH yang memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang mulia yang Ia tetapkan sendiri bagi-Nya, yang tidak sama dan bisa disamakan dengan nama atau sifat makhluq-Nya. ALLAH yang berada di ketinggian, di langit. Yang menciptakan, memiliki, dan mengatur semesta alam serta menetapkan taqdir bagi seluruh makhluq lima puluh ribu tahun sebelum Ia menciptakan itu semua. Yang orang-orang beriman kelak berkesempatan melihat Nya di surga sebagai kenikmatan yang paling sempurna. Ya, seperti inilah antara lain ALLAH yang aku dan mereka kenal.
Inilah jalanku….
Ya, ketika aku hendak mengenal nabiku, berangkatlah aku dengan menempuh jalan ini. Dan mustahil aku mengenal nabiku seandainya yang kutempuh adalah jalan selain yang telah ditempuh oleh generasi-generasi terbaik dari umat ini . Juga mustahil aku mengenal nabiku seandainya yang kutempuh adalah mengambil dan menerima semua riwayat tentangnya tanpa memilah dan memilih -mana riwayat yang benar mana yang tidak benar-.
Maka Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– yang kukenal sama dengan yang mereka kenal. Yakni manusia pilihan yang berasal dari nasab yang jelas dan mulia. Dialah Nabi yang memiliki sifat amanah, yang para sahabatnya bersaksi bahwa ia telah menyampaikan seluruh risalah tanpa terlupa atau sengaja ia sembunyikan, yang juga telah menjelaskan berbagai perkara yang dapat mengantarkan kita ke sorga dan menyelamatkan kita dari neraka. Yakni Nabi yang para sahabatnya tidak pernah mengkultuskannya sebagaimana orang nashara terhadap nabi mereka, juga tidak pernah para sahabat melecehkannya sebagaimana orang yahudi terhadap nabi mereka, namun menerimanya sebagai teladan, sebagaimana ALLAH menjadikannya. Dialah Nabi yang kelak menggiring manusia di padang Mahsyar, yang diutus ALLAH dengan agama yang mengalahkan agama-agama lain, yang tak ada lagi nabi setelahnya. Ya, seperti itulah antara lain Muhammad –Shallallahu alaihi wa sallam– yang aku dan mereka kenal.
Inilah jalanku….
Ya, ketika aku hendak mengenal agamaku, juga kutempuh jalan ini. Dan mustahil aku mengenal agamaku seandainya yang kutempuh adalah selain jalan ini. Juga mustahil aku mengenal agamaku, seandainya aku menimba bukan dari sumbernya yang murni, apalagi dari -yang telah ALLAH dijelaskan sifat bencinya terhadap agama ini- yahudi dan nashara.
Maka agama yang kukenal sama dengan yang mereka kenal. Yakni agama yang telah sempurna, yang ALLAH unggulkan di atas agama-agama lain, yang menjadi satu-satunya agama yang diterima di sisi-Nya. Agama yang maknanya: pasrah kapada ALLAH atas dasar tauhid, patuh dengan mengerjakan ketaatan, serta berlepas diri dari syirik dan orang musyrik Yakni agama yang meliputi Islam, Iman, dan Ihsan. Yang tiangnya adalah sholat dan puncaknya adalah jihad di jalan ALLAH. Agama yang merupakan rahmat bagi semesta alam, yang tidak menghakimi isi hati manusia, namun menuntut pemeluknya untuk bangga mengamalkannya. Ya, seperti itulah antara lain Islam yang aku dan mereka kenal.
Inilah jalanku….
Ya, ketika aku hendak mengamalkan apa yang telah kukenal tadi, berangkatlah aku dengan menempuh jalan ini, Dan mustahil aku dapat mengamalkannya kalau tidak dibangun di atas pengenalanku yang benar akan ALLAH, Islam, dan Muhammad –Shallallahu alaihi wa sallam-.
Maka apa yang aku amalkan adalah juga yang mereka amalkan. Amalan yang terikat contoh dan dibangun di atas dalil yang kokoh, bukan yang lemah, apalagi yang tak berdalil. Amalan yang dibangun di atas kepastian, bukan di atas keraguan. Amalan yang benar-salah dan baik-buruknya bukan ditentukan aqal, adat, dan hawa nafsu, tetapi wahyu. Amalan yang dibangun dengan mengharapkan ridho ALLAH, bukan selain-Nya. Sehingga amalanku sama dengan apa yang mereka amalkan.
Inilah jalanku…
Ya, ketika aku hendak menda’wahkan apa yang telah kuilmui dan amalkan tadi, berangkatlah aku dengan menempuh jalan ini. Dan mustahil aku dapat menda’wahkannya kalau tidak diawali dengan mengilmui dan mengamalkannya terlebih dahulu, sebagaimana yang dituntut oleh jalan ini.
Maka apa yang aku da’wahkan adalah juga apa yang mereka da’wahkan. Yakni, da’wah yang haq, menyeru kepada tauhid, tidak kepada selainnya. Da’wah yang haq, mengajak kepada Sunnah, tidak kepada selainnya. Menyeru kepada persatuan di atas agama ALLAH, bukan di atas kelompok atau golongan. Yakni da’wah yang dibangun di atas ilmu, yang diikuti hanya oleh pengikut-pengikut Muhammad –Shallallahu alaihi wa sallam-. Yang dengannya segala kerancuan dijelaskan, Da’wah yang membuat orang beriman semakin yakin, yang bimbang mendapatkan kepastian, yang mencari mendapat jawaban, dan yang memusuhi terbungkam mulutnya. Ya, bukan da’wah yang membuat orang beriman terpuruk di dalam kelemahan, yang bimbang semakin kebingungan, yang mencari semakin tersesat, dan yang memusuhi semakin gembira. Demikianlah, sehingga da’wahku sama dengan apa yang mereka da’wahkan.
Inilah jalanku…
Ya, ketika aku harus bersabar dan menasihati orang lain untuk bersabar, berangkatlah aku dengan menempuh jalan ini. Dan mustahil aku dapat bersabar dan mengajak orang lain juga bersabar kalau tidak menempuh jalan ini.
Maka apa yang aku nasihatkan kepada orang adalah juga yang mereka nasihatkan. Yakni nasihat agar bersikap tulus kepada ALLAH, tulus kepada AL Qur’an, tulus kepada Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam-, tulus kepada para pemimpin dari kalangan kaum muslimin, dan tulus kepada sesama muslim secara keseluruhan. Juga nasihat agar bersabar di dalam keta’atan, di dalam menghadapi yang diharamkan ALLAH, dan bersabar menghadapi cobaan dan rintangan kehidupan. Nasihat yang dengannya si kuat menjadi sayang kepada yang lemah dan si lemah menjadi hormat kepada yang kuat, bukan sebaliknya.
Inilah jalanku…
Ya, satu jalan lurus tak bercabang, apalagi berbilang. Satu jalan yang ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa pun mengatakan sebagai jalan-Nya.:
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
(Artinya: “Dan bahwasanya inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah jalan ini, dan jangan kalian ikuti jalan-jalan yang banyak, yang akan menceraiberaikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diwasiatkan ALLAH kepada kalian, agar kalian bertaqwa.“) (Al An’aam:153)
Yang mana selainnya adalah jalan-jalan pelaku bid’ah, yang penyeru-penyerunya adalah syaithan.
عن عبد اللّه بن مسعود رضي اللّه عنه قال:
خط رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم خطاً بيده ثم قال:”هذا سبيل اللّه مستقيماً”،
وخط عن يمينه وشماله ثم قال:”هذه السبل ليس منها سبيل إلا عليه شيطان يدعو إليه”،
ثم قرأ:{وأن هذا صراطي مستقيماً فاتبعوه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله}
(رواه أحمد والحاكم والنسائي، وقال الحاكم: صحيح ولم يخرجاه)
(Dari Abdullah bin Mas’ud –radhiallahu anhu-, berkata: Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– telah menggambarkan bagi kami sebuah garis dengan tangannya, kemudian berkata,”Inilah jalan-ALLAH yang lurus.” Dan kemudian beliau membuatkan garis-garis lain di sebelah kiri dan kanan garis tadi, kemudian berkata, “Inilah As-Subul (jalan-jalan yang banyak). Tidak satupun dari jalan-jalan itu kecuali ada syaithan yang menyeru kepadanya.” Kemudian beliau membaca –(Dan bahwasanya inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah jalan ini, dan jangan kalian ikuti jalan-jalan yang banyak, yang akan menceraiberaikan kalian dari jalan-Nya.)-
Inilah jalanku…
Jalan yang ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa wajibkan aku berjalan di atasnya. Jalan yang telah Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– dan generasi terbaik umat ini menapakinya. Jalan yang menjanjikan, sampai aku bertemu dengan perintisnya kelak di surga, amin.

Kisah Nyata, Seorang Wanita Yang Menikah Bukan Karena Cinta Diawalnya

CINTA BUKANLAH MODAL UTAMA DALAM PERNIKAHAN, tapi CINTA bisa Ditumbuhkan Ketika Mengarungi Pernikahan 

Namaku mariani orang-orang biasa memangilku aryani, ini adalah kisah perjalanan hidupku yang hingga hari ini masih belum lekang dalam benakku, sebuah kisah yang nyaris membuatku menyesal seumur hidup bila aku sendiri saat itu tidak berani mengambil sikap. Yah, sebuah perjalanan kisah yang sungguh aku sendiri takjub dibuatnya,sebab aku sendiri menyangka bahwa didunia ini mungkin tak ada lagi orang seperti dia.
Tahun 2007 silam, aku dipaksa orang tuaku menikah dengan seorang pria, kak arfan namanya, kak arfan adalah seorang lelaki yang tinggal sekampung denganku, tapi dia seleting dengan kakakku saat sekolah dulu, usia kami terpaut 4 tahun, yang aku tahu, bahwa sejak kecilnya kak arfan adalah anak yang taat kepada orang tuanya, dan juga rajin ibadahnya, dan tabiatnya seperti itu terbawa-bawa sampai ia dewasa,
Aku merasa risih sendiri dengan kak arfan apabila berpapasan di jalan, sebab sopan santunya sepertinya terlalu berlebihan pada orang-orang, geli aku menyaksikannya, yah, kampungan banget gelagatnya…,
Setiap ada acara-acara ramai di kampungpun kak arfan tak pernah kelihatan bergabung sama teman-teman seusianya, yaah, pasti kalau dicek kerumahnyapun gak ada, orang tuanya pasti menjawab:
“Kak arfan dimesjid nak, menghadiri taklim”,
Dan memang mudah sekali mencari kak arfan, sejak lulus dari pesantren al-khairat kota gorontalo, kak arfan sering menghabiskan waktunya membantu orang tuanya jualan, kadang terlihat bersama bapaknya dikebun atau disawah, meskipun kadang sebagian teman sebayanya menyayangkan potensi dan kelebihan-kelebihannya yang tidak tersalurkan.
Secara fisik memang kak arfan hampir tidak sepadan dengan ukuran ekonomi keluarganya yang pas-pasan, sebab kadang gadis-gadis kampung suka menggodanya kalau kak arfan dalam keadaan rapi menghadiri acara-acara di desa, tapi bagiku sendiri itu adalah hal yang biasa-biasa saja, sebab aku sendiri merasa bahwa sosok kak arfan adalah sosok yang tidak istimewa,
Apa istimewanya menghadiri taklim, kuper dan kampunga banget, kadang hatiku sendiri bertanya, koq bisa yah, ada orang yang sekolah dikota namun begitu kembali tak ada sedikitpun ciri-ciri kekotaan melekat pada dirinya, hp gak ada, selain bantu orang tua, pasti kerjanya ngaji, sholat, taklim dan kembali kekerja lagi, seolah ruang lingkup hidupnya hanya monoton pada itu-itu saja,
Ke bioskop kek, ngumpul bareng teman-teman kek stiap malam minggunya di pertigaan kampung yang ramainya luar biasa setiap malam minggu dan malam kamisnya, apalagi setiap malam kamis dan malam minggunya ada acara curhat kisah yang top banget disebuah station radio swasta di gorontalo, kalau tidak salah ingat nama acaranya suara hati dan nama penyiarnya juga satrio herlambang.
Waktu terus bergulir dan seperti gadis-gadis modern pada umumnya yang tidak lepas dengan kata pacaran, akupun demikian, aku sendiri memiliki kekasih yang begitu sangat aku cintai, namanya boby, masa-masa indah kulewati bersama boby, indah kurasakan dunia remajaku saat itu, kedua orang tua boby sangat menyayangi aku dan sepertinya memiliki sinyal-sinyal restunya atas hubungan kami,
Hingga musibah itu tiba, aku dilamar oleh seorang pria yang sudah sangat aku kenal yah siapa lagi kalau bukan sikuper kak arfan lewat pamanku orang tuanya kak arfan melamarku untuk anaknya yang kampungan itu,
Mendengar penuturan mama saat memberitahu padaku tentang lamaran itu, kurasakan dunia ini gelap, kepalaku pening…, aku berteriak sekencang-kencangnya menolak permintaan lamaran itu dengan tegas dan terbelit-belit aku sampaikan langsung pada kedua orang tuaku bahwa aku menolak lamaran keluarganya kak arfan, dan dengan terang-terangan pula aku sampaikan pula bahwa aku memiliki kekasih pujaan hatiku, boby. 
Mendengar semua itu ibuku shock dan jatuh tersungkur kelantai, akupun tak menduga kalau sikapku yang egois itu akan membuat mama shock, baru kutahu bahwa yang menyebabkan mama shok itu karena beliau sudah menerima secara resmi lamaran dari orang tuanya kak arfan, hatiku sedih saat itu, kurasakan dunia begitu kelabu, aku seperti menelan buah simalakama, seperti orang yang paranoid, tidak tahu harus ikut kata orang tua atau lari bersama kekasih hatiku boby.
Hatiku sedih saat itu..
Dengan Berat hati dan penuh kesedihan aku menerima lamaran kak arfan untuk menjadi istrinya dan kujadikan malam terakhir perjumapaanku dengan boby di rumahku meluapkan kesedihanku, meskipun kami saling mencintai tapi mau tidak mau boby harus merelakan aku menikah dengan kak arfan karena dia sendiri mengakui bahwa dia belum siap membina rumah tangga saat itu.
Tanggal 11 agustus 2007 akhirnya pernikahankupun digelar, aku merasa bahwa pernikahan itu begitu menyesakkan dadaku, air mataku tumpah di malam resepsi pernikahan itu, ditengah senyuman orang-orang yang hadir pada acara itu, mungkin akulah yang paling tersiksa, karena harus melepaskan masa remajaku dan menikah dengan lelaki yang tidak pernah kucintai.
Dan yang paling membuatku tak bisa menahan air mataku, mantan kekasihku boby hadir juga pada resepsi pernikahan tersebut, ya Allah mengapa semua ini harus terjadi padaku ya Allah…mengapa aku yang harus jadi korban dari semua ini?
Waktu terus berputar dan malampun semakin merayap, hingga usailah acara resepsi pernikahan kami, satu persatu para undangan pamit pulang hingga sepilah rumah kami, saat masuk kedalam kamar, aku tidak mendapati suamiku kak arfan didalamnya,
Dan sebagai seorang istri yang hanya terpaksa menikah dengannya maka akupun membiarkannya dan langsung membaringkan tubuhku setalah sebelumnya menghapus make-up pengantinku dan melepaskan gaun pengantinku, aku bahkan tak perduli kemana suamiku saat itu, karena rasa capek dan diserang kantuk akupun akhirnya tertidur.
Tiba-tiba disepertiga malam aku tersentak tak kala melihat ada sosok hitam yang berdiri disamping ranjang tidurku, dadaku berdegup kencang, aku hampir saja berteriak histeris andai saja saat itu tak kudengar serua takbir terucap lirih dari sosok yang berdiri itu, perlahan kuperhatikan dengan seksama, ternyata sosok yang berdiri disampingku itu adalah kak arfan suamiku yang sedang sholat tahajud, perlahan aku baringkan tubuhku sambil membalikkan diriku membelakanginya yang saat itu sedang sholat tahajud. 
Ya Allah aku lupa bahwa sekarang aku telah menjadi istrinya kak arfan, tapi meskipun demikian aku masih tak bisa menerima kehadirannya dalam hidupku, saat itu karena masih dibawah perasan ngantuk, akupun kembali teridur, hingga pukul 04.00 dini hari kudapati suamiku sedang tidur beralaskan sajadah dibawah ranjang pengantin kami,
Dadaku kembali berdegung kencang kala mendapatinya, aku masih belum percaya kalau aku telah bersuami, tapi ada sebuah tanya terbetik dalam benakku, mengapa dia tidak tidur diranjang bersamaku, kalaupun dia belum ingin menyentuhku, paling gak dia tidur seranjang denganku itukan logikanya, ada apa ini ? Ujarku perlahan dalam hati.
Aku sendiri merasa bahwa mungkin malam itu kak arfan kecapekan sama sepertiku sehingga dia tidak mendatangiku dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami, tapi apa peduliku dengan itu semua, toh akupun tidak menginginkannya, gumamku dalam hati.
Hari-hari terus berlalu, dan kamipun mejalani aktifitas kami masing-masing, kak arfan bekerja mencari rezeki dengan pekerjaannya, dan aku dirumah berusaha semaksimal mungkin untuk memahami bahwa aku telah bersuami, dan memiliki kewajiban melayani suamiku, yah minimal menyediakan makanannya, meskipun kenangan-kenangan bersama boby belum hilang dari benakku, aku bahkan masih merinduinya.
Semula kupikir bahwa prilaku kak arfan yang tidak pernah menyentuhku dan menunaikan kewajibannya sebagai suami itu hanya terjadi malam pernikahan kami, tapi ternyata yang terjadi hampir setiap malam sejak malam pengantin itu kak arfan selalu tidur beralaskan permadani dibawah ranjang atau tidur diatas sofa didalam kamar kami, dia tidak pernah menyentuhku walau hanya menjabat tanganku,
Jujur segala kebutuhanku selalu dipenuhinya, secara lahir dia selalu mafkahiku, bahkan nafkah lahir yang dia berikan lebih dari apa yang aku butuhan, tapi soal biologis, kak arfan tak pernah sama sekali mengungkit-ngungkitnya atau menuntutnya dariku, bahkan yang tidak pernah kupahami, pernah secara tidak sengaja kami bertabrakan didepan pintu kamar dan kak arfan meminta maaf seolah merasa bersalah karena telah menyetuhku. 
Ada apa dengan kak arfan ?
Apa dia lelaki normal ?
Kenapa dia begitu dingin padaku ?
Apakah aku kurang dimatanya ?
Atau ? Pendengar, jujur merasai semua itu membuat banyak tanya berkecamuk dalam benakku, ada apa dengan suamiku ?
Bukankah dia pria yang beragama dan tahu bahwa menafkahi istri itu secara lahir dan bathin adalah kewajibannya…?
Ada apa dengannya, padahal setiap hari dia mengisi acara-acara keagamaan dimesjid, begitu santun pada orang-orang dan begitu patuh kepada kedua orangtuanya, bahkan terhadap akupun hampir semua kewajibannya telah dia tunaikan dengan hikmah, tidak pernah sekalipun dia mengasari aku, berkata-kata keras padaku, bahkan kak arfan terlalu lembut bagiku, tapi satu yang belum dia tunaikan yaitu nafkah bathinku,
Aku sendiri saat mendapat perlakuan darinya setiap hari yang begitu lembutnya mulai menumbuhkan rasa cintaku padanya dan membuatku perlahan-lahan melupakan masa laluku bersama boby.
Aku bahkan mulai merindukannya tak kala dia sedang tidak dirumah, aku bahkan selalu berusaha menyenangkan hatinya dengan melakukan apa-apa yang dia anjurkannya lewat ceramah-ceramahnya pada wanita-wanita muslimah, yakni mulai memakai busana muslimah yang syar’i. 
Memang 2 hari setelah pernikahan kami, kak arfan memberiku hadiah yang diisi dalam karton besar, semula aku mengira bahwa hadiah itu adalah alat-alat rumah tangga, tapi setelah kubuka, ternyata isinya 5 potong jubah panjang berwarna gelap, 5 buah jilbab panjang sampai selutut juga berwana gelap, 5 buah kaos kaki tebal panjang berwarnah hitam dan 5 pasang manset berwarna gelap pula, jujur saat membukanya aku sedikit tersinggung, sebab yang ada dalam bayanganku bahwa inilah konsekwensi menikah dengan seorang ustadz,
Aku mengira bahwa dia akan memaksa aku untuk menggunakannya, ternyata dugaanku salah sama sekali, sebab hadiah itu tidak pernah disentuhnya atau ditanyainya, dan kini aku mulai menggunakannya tanpa paksaan siapapun, kukenakan busana itu agar dia tahu bahwa aku mulai menganggapnya istimewa, bahkan kebiasaannya sebelum tidur dalam mengajipun sudah mulai aku ikuti,
Kadang ceramah-ceramahnya dimesjid sering aku ikuti dan aku praktekan dirumah, tapi satu yang belum bisa aku mengerti darinya, entah mengapa hingga 6 bulan pernikahan kami dia tidak pernah menyentuhku, setiap masuk kamar pasti sebelum tidur dia selalu mengawali dengan mengaji lalu tidur diatas hamparan permadani dibawah ranjang hingga terjaga lagi di sepertiga malam dan melaksanakan sholat tahajud,
Hingga suatu saat kak arfan jatuh sakit, tubuhnya demam dan panasnya sangat tinggi, aku sendiri bingung bagaimana cara menanganinya, sebab kak arfan sendiri tidak pernah menyentuhku, aku khawatir dia akan menolak aku bila aku menawarkan jasa membantunya,
ya Allah..Apa Yang harus aku lakukan saat ini, aku ingin sekali meringankan sakitnya, tapi apa yang harus saya lakukan ya Allah..
Malam itu aku tidur dalam kegelisahan, aku tak bisa tidur mendengar hembusan nafasnya yang seolah sesak, kudengar kak arfanpun sering mengigau kecil, mungkin karena suhu panasnya yang tinggi sehingga ia selalu mengigau, sementara malam begitu dingin disertai hujan yang sangat deras dan angin yang bertiup kencang..
Kasihan kak arfan, pasti dia sangat kedinginan saat ini, perlahan aku bangun dari pembaringan dan menatapnya yang sedang tertidur pulas, kupasangkan selimutnya yang sudah menjulur kekakinya, ingin sekali aku merebahkan diriku disampingnya atau sekedar mengompresnya, tapi aku tak tahu bagaimana harus memulainya,
Hingga akhirnya aku tak kuasa menahan keinginan hatiku untuk mendekatkan tanganku di dahinya untuk meraba suhu panas tubuhnya, tapi baru beberapa detik tanganku menyentuh kulit dahinya, kak arfan terbangun dan langsung duduk agak menjauh dariku sambil berujar
”Afwan dek, kau belum tidur ?
Kenapa ada dibawah ?
Nanti kau kedinginan ?
Ayo naik lagi keranjangmu dan tidur lagi, nanti besok kau capek dan jatuh sakit?” Pinta kak arfan padaku,
Hatiku miris saat mendengar semua itu, dadaku sesak, mengapa kak arfan selalu dingin padaku , apakah dia menganggap aku orang lain, apa di hatinya tak ada cinta sama sekali untuk aku, tanpa kusadari air mataku menetes sambil menahan isak yang ingin sekali kuluapkan dengan teriakan, hingga akhirnya gemuruh dihatiku tak bisa kubendung juga 
”Afwan kak, kenapa sikapmu selama ini padaku begitu dingin ?
Kau bahkan tak pernah mau menyentuhku walaupun hanya sekedar menjabat tanganku ?
Bukankah aku ini istrimu ?
Bukankah aku telah halal buatmu ?
Lalu mengapa kau jadikan aku sebagai patung perhiasan kamarmu ?
Apa artinya diriku bagimu kak ?
Apa artinya aku bagimu kak ?
Kalau kau tidak mencintaiku lantas mengapa kau menikahi aku ?
Mengapa kak ? Mengapa ?” Ujarku disela isak tangis yang tak bisa kutahan.
Tak ada reaksi apapun dari kak arfan menanggapi galaunya hatiku dalam tangis yang tersedu itu, yang nampak adalah dia memperbaiki posisi duduknya dan melirik jam yang menempel didinding kamar kami, hingga akhirnya dia mendekatiku dan perlahan berujar padaku 
”Dek…jangan kau pernah bertanya pada kakak tentang perasaan ini padamu, karena sesungguhnya kakak begitu sangat mencintaimu, tetapi tanyakanlah semua itu pada dirimu sendiri, apa saat ini telah ada cinta dihatimu untuk kakak?,
Kakak tahu, dan kakak yakin pasti suatu saat kau akan bertanya mengapa sikap kakak selama ini begitu dingin padamu,
Sebelumnya kakak minta maaf bila semuanya baru kakak kabarkan padamu malam ini, kau mau tanyakan apa maksud kakak sebenarnya dengan semua ini..?. Ujar kak arfan dengan agak sedikit gugup, 
“Iya tolong jelaskan pada saya kak, mengapa kak begitu tega melakukan ini pada saya ?
Tolong jelaskan kak ?” Ujarku menimpali tuturnya kak arfan
“Hhhhhmmm, dek kau tahu apa itu pelacur ?
Dan apa pekerjaan seorang pelacur ?
Afwan dek dalam pemahaman kakak, seorang pelacur itu adalah seorang wanita penghibur yang kerjanya melayani para lelaki hidung belang untuk mendapatkan materi tanpa peduli apakah dihatinya ada cinta untuk lelaki itu atau tidak, bahkan seorang pelacur terkadang harus meneteskan air mata mana kala dia harus melayani nafsu lelaki yang tidak dicintainya bahkan dia sendiri tidak merasakan kesenangan dari apa yang sedang terjadi saat itu, dan kakak tidak ingin hal itu terjadi padamu dek,
Kau istriku dek, betapa bejatnya kakak ketika kakak harus memaksamu melayani kakak dengan paksa saat malam pertama pernikahan kita sedangkan dihatimu tak ada cinta sama sekali buat kakak, alangkah berdosanya kakak bila pada saat melampiaskan birahi kakak padamu malam itu sementara yang ada dalam benakmu bukanlah kakak, tetapi ada lelaki lain. 
Kau tahu dek, sehari sebelum pernikahan kita digelar, kakak sempat datang kerumahmu untuk memenuhi undangan bapakmu, tapi begitu kakak berada didepan pintu pagar rumahmu, kaka melihat dengan mata kepala kakak sendiri kesedihanmu yang kau lampiaskan pada kekasihmu boby, kau ungkapkan pada boby bahwa kau tidak mencintai kakak, dan kau ungkapkan pada boby bahwa kau hanya akan mencintainya selamanya, saat itu kakak merasa bahwa kakak telah merampas kebahagiaanmu dan kakak yakin bahwa kau menerima pinangan kakak itu karena terpaksa,
Kakak juga mempelajari sikapmu saat di pelaminan, bahwa begitu sedihnya hatimu saat bersanding di pelaminan bersama kakak, lantas haruskah kakak egois dengan mengabaikan apa yang kau rasakan saat itu, sementara tanpa memperdulikan perasaanmu kakak menunaikan kewajiban kakak sebagai suamimu dimalam pertama semenatara kau sendiri akan mematung dengan deraian air mata karena terpaksa melayani kakak?,
Kau istriku dek, sekali lagi kau istriku, kau tahu..
Kakak Begitu sangat mencintaimu dan kakak akan menunaikan semua itu manakala di hatimu telah ada cinta untuk kakak, agar kau tidak merasa diperkosa hak-hakmu, agar kau bisa menikmati apa yang kita lakukan bersama,
Dan alhamdulillah apabila hari ini kau telah mencintai kakak, dan kakak juga merasa bersyukur bila kau telah melupakan mantan kekasihmu itu, beberapa hari ini kakak perhatikan kau juga telah menggunakan busana muslimah yang syari,
Pinta kakak padamu dek,
luruskan niatmu, kalau kemarin kau mengenakan busana itu untuk menyenangkan hati kakak semata maka sekarang luruskan niatmu, niatkan semua itu untuk Allah ta’alaa selanjutnya untuk kakak..,
Mendengar semua itu aku memeluk suamiku, aku merasa bahwah dia adalah lelaki terbaik yang pernah kujumpai selama hidupku, aku bahkan telah melupakan boby, aku merasa bahwa malam itu aku adalah wanita yang paling bahagia didunia, sebab meskipun dalam keadaan sakit, untuk pertama kalinya kak arfan mendatangiku sebagai seorang suami,
Hari-hari kami lalui dengan bahagia, kak arfan begitu sangat kharismatik, terkadang dia seperti seorang kakak buatku, terkadang seperti orang tua, darinya aku banyak belajar banyak hal, perlahan aku mulai meluruskan niatku, dengan menggunakan busana yang syari semata-mata karena Allah dan untuk menyenangkan hati suamiku,
Sebulan setelah malam itu, dalam rahimku telah tumbuh benih-benih cinta kami berdua, alhamdulillah, aku sangat bahagia bersuamikan dia, darinya aku belajar banyak tentang agama, aku menjadi mutarobbinya, hari demi hari kami lalui dengan kebahagiaan, ternyata dia mencintaiku lebih dari apa yang aku bayangkan dan dulu aku hampir saja melakukan tindakan bodoh dengan menolak pinangan dia.
Aku pikir kebahagiaan itu akan berlangsung lama diantara kami, setelah lahir abdurrahman, hasil cinta kami berdua, diakhir tahun 2008 kak arfan mengalami kecelakaan dan usianya tidak panjang,
sebab kak arfan meninggal dunia sehari setelah kecelakaan tersebut, aku sangat kehilangannya, aku seperti kehilangan penopang hidupku, aku kehilangan kekasihku, aku kehilangan murobbiku, aku kehilangan suamiku
Tidak pernah terbayangkan olehku bahwa kebahagiaan bersamanya begitu singkat, yang tidak pernah aku lupakan diakhir kehidupannya kak arfan, dia masih sempat menasehatkan sesuatu padaku
“Dek.., Pertemuan dan perpisahan itu adalah fitrahnya kehidupan, kalau ternyata kita berpisah besok atau lusa, kakak minta padamu dek..,
Jaga abdurrahman dengan baik, jadikan dia sebagai mujahid yang senantiasa membela agama, senantiasa menjadi yang terbaik untuk ummat, didik dia dengan baik dek, jangan sia-siakan dia,
Satu permintaan kakak ..,
Kalau suatu saat ada seorang pria yang datang melamarmu, maka pilihlah pria yang tidak hanya mencintaimu, tetapi juga mau menerima kehadiran anak kita,
Dan maafkan kakak dek, bila selama bersamamu, ada yang kurang yang telah kakak perbuat untukmu,
Senantiasalah berdoa..,
Kalau kita berpisah didunia ini..
Insya Allah kita akan berjumpa kembali diakhirat kelak..,
Kalau Allah mentakdirkan kakak yang pergi lebih dahulu meninggalkan dirimu, Insya Allah kakak akan senantiasa menantimu..”
Demikianlah pesan terakhir kak arfan sebelum keesokan harinya kak arfan meninggalkan dunia ini, hatiku sangat sedih saat itu…,
aku merasa sangat kehilangan tetapi aku berusaha mewujudkan harapan terakhirnya, mendidik dan menjaga abdurrahman dengan baik…
Selamat jalan kak arfan..Aku Akan selalu mengenangmu dalam setiap doa-doaku, amiin
Wasalam 
Nb : kisah nyata dari akhwat di gorontalo, sulawesi utara
Sumber:
link mp3:

Hati-hati Dengan Akun Facebookmu,. Apakah Menjadi Amal Jariyah, Atau Pengumpul Dosa.. Walaupun Anda Sudah Meninggal Dunia,.

Akun Facebook Gadis ABG Yang Meninggal

Kemaren malam saya buka FB. Tiba-tiba mata  saya langsung tertuju kepada salah satu status teman yang mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya seseorang.
Ternyata yang bikin status adalah anak remaja yang mengucapkan selamat jalan untuk selamanya kepada salah seorang temannya yang baru meninggal beberapa jam sebelumnya karena kecelakaan tunggal di sebuah tempat.
Di sana diseratakan foto jenazah yang hidung dan mulutnya mengeluarkan darah. Cukup tragis. Semoga Allah menyelamatkan kita dari hal demikian.
Saya langsung saja klik pada bagian nama teman yang disebutkan. Tidak lama muncullah dinding FB kepunyaan orang yang dikatakan sudah meninggal tersebut.
Subhanallah, yang punya FB masih sangat muda. ABG yang masih duduk di bangku SMP.
Dindingnya dipenuhi foto-foto. Ada yang sendirian, ada yang dengan teman-temannya, dan ada yang dengan orang tuanya sendiri.
Namun sayang, semua fotonya memamerkan aurat dan kecantikan. Kelihatan riang sekali, tidak ada tanda-tanda akan meninggal di usia sebelia itu.
Dan ada beberapa foto yang baru 4 hari yang lalu dijadikan sebagai foto profil. Kondisinya tidak pantas disebut di sini. Foto yang akan membuat darah anak muda mengalir kencang.
Sayang beribu sayang, dibawahnya ada foto dia duduk berdua di sebuah taman dengan mamanya, di mana keduanya sama-sama menggunakan celana yang hanya sejengkal dari pinggang.
Seluruh komentar di bawah fotonya memuji kecantikannya. Baik dari laki-laki, maupun perempuan. Dari komen balasannya dia kelihatan sangat senang dan bangga atas pujian itu.
Namun apa daya, kemaren siang malaikat Maut datang mengambil tanpa peduli umurnya yang masih amat belia. Tidak mau tahu kalau dia baru mencicipi nikmatnya dunia. Masa bodoh kalau dia lagi riang gembira dengan kecantikan dan kemudaannya.
Kalau tidak ada yang tahu pasword FBnya, siapa yang akan menghapus foto-foto yang tidak pantas dilihat orang itu?
Apakah mungkin dengan penyebab amalannya di FB itu akan mendatangkan kiriman pahala kepadanya di dalam kubur sebagai amal jariah? Wahai para pemuda yang berbahagia dengan kemudaannya!
Wahai pemudi yang terlena dengan kecantikannya!
Wahai ABG yang lupa daratan dengan keasyikan canda tawanya!
Tidakkah hal ini jadi pelajaran bagimu?
تزود من التقوى فإنك لا تدري إذا جن ليل هل تعيش إلى الفجر
“Berbekallah dengan taqwa karena engkau tidaklah tahu, apabila malam kian kelam apakah engkau masih hidup keesokan pagi.”
فكم من فتى أمسى وأضحى ضاحكا وقد نسجت أكفانه وهو لا يدري
 “Berapa banyak pemuda yang tertawa riang pagi dan sore hari, sementara kain kafannya telah ditenun dan ia tiada mengetahui.”
وكم من عروس زينوها لصاحبها وقد قبضت أرواحهم ليلة القدر
“Berapa banyak mempelai wanita yang dirias untuk suaminya, akan tetapi malaikat maut datang mencabut nyawanya di malam hari.”
وكم من صحيح مات من غير علة وكم من سقيم عاش حينا من الدهر
“Dan berapa banyak orang sehat meninggal tanpa penyakit yang mendahuluinya, dan berapa banyak orang yang sakit namun ia hidup dalam waktu lama.”
Sumber:Status Fb Ust.Zulfi Akmal
reposting : http://pepisusanti.blogspot.com/2014/12/akun-facebook-gadis-abg-yang-meninggal.html