Tampilkan postingan dengan label Manajemen Kalbu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Kalbu. Tampilkan semua postingan

Hakekat Dunia…

Dunia ini hanyalah ‘tempat persinggahan’… Dunia ini hanya permainan dan hiburan yang melalaikan… Dunia ini penjara sementara seorang yang beriman… Dunia ini -baik itu sesuatu yang disenangi maupun yang dibenci- adalah ujian… Dunia itu sesaat, dan akan berakhir dengan kesirnaan… Tapi ingat pula, bahwa dunia juga ladang mempersiapkan bekal. Sungguh inilah hakekat kehidupan dunia, sebagaimana disebutkan dalam banyak firman Allah ta’ala dan sabda Rosulnya –shollallohu alaihi wasallam-, dan banyak manusia telah meyakininya, namun sayang banyak dari mereka yang tetap terlena dan tergoda.
              Oleh karena itu, hendaklah kita selalu mengingat firmanNya:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
Carilah bekal, sungguh sebaik-baik bekal adalah TAKWA. Dan bertakwalah kalian, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat [Albaqoroh: 197]
Ibnul Jauzi –rohimahulloh– mengatakan: Sungguh dungu, orang yang tidak tahu kapan ‘mati’ mendatanginya, tapi dia tidak menyiapkan diri untuk menghadapinya. Dan manusia paling tolol dan paling lalai adalah orang yang usianya sudah melewati 60 tahun dan mendekati 70 tahun, tapi dia tetap lalai tidak mempersiapkan diri, padahal usia antara 60 sampai 70 tahun adalah medan perang ‘hidup mati’, dan seharusnya orang yang terjun di medan perang itu menyiapkan dirinya. [Shoidul Khoothir, hal: 439]
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- telah menyabdakan:
أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ.
Umur umatku itu antara 60 sampai 70 tahun, dan sedikit orang yang melewati umur tersebut. [HR. Attirmidzi: 3550, dihasankan oleh Syeikh Albani]
Sungguh, tertawa panjang bagi orang tua sudah tidak begitu bermakna… candanya juga sudah terasa hambar…  Bahkan ketika dunia menawarkan dirinya, kekuatannya sudah melemah, dan khayalannya pun semakin pudar… Jika demikian, masih adakah tempat yang ‘mapan’ bagi orang yang berumur 60 tahun di dunia ini.
Lalu, bila dia ingin hidup hingga usia 70 tahun, dia tidak akan sampai kecuali dengan susah payah… Ketika jalan, dia akan terengah-engah… bila duduk, napasnya berat… Bila tidur, akan sering terjaga dan tidak bisa lelap… Dia melihat godaan dunia, tapi tidak kuasa menikmatinya… Kegiatan ini harus dijauhi, kegiatan itu harus dikurangi… Tidak  boleh makan ini dan itu… Dan apabila makan, banyak giginya yang sudah kosong, bahkan gigi yang masih menempel pun sudah banyak ‘bergoyang’… Bila makanan itu masuk, lambungnya sudah payah dan susah mencerna… Begitu pula punggungnya sudah rapuh, dan tubuhnya semakin meliuk… tulangnya rapuh dan ototnya loyo, sehingga seakan dia hidup sebagai tawanan.
Lalu, bila dia ingin hidup hingga usia 80 tahun, dia akan kembali merangkak seperti anak, banyak kehilangan memorinya, sering lupa, atau bahkan menjadi pikun, belum lagi banyak penyakit berkumpul ‘mengerumuninya’. Sungguh benar firman Allah ta’ala:
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً
Allah-lah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan kalian setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan kalian setelah keadaan kuat itu menjadi lemah dan beruban. [Arrum: 54]
وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا
Kami tetapkan dalam rahim janin yang kami kehendaki hingga waktu yang sudah ditentukan, kemudian kami keluarkan kalian sebagai bayi, kemudian kalian sampai kepada usia dewasa. Diantara kalian ada diwafatkan, dan diantara kalian ada yang dikembalikan kepada usia lanjut, sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang dahulu dia tahu. [Alhaj: 5]
Memang ada sebagian kecil orang yang keadaannya lebih baik dari yang penulis sebutkan di atas, tapi tetap saja tidak bisa dielakkan, bahwa semakin tua seseorang, semakin berat pula dia menjalani hidup ini. Persis seperti mobil, semakin tua semakin banyak kerusakan, dan akan semakin berat jalannya, lalu akhirnya teronggok sebagai barang rongsokan.
Maka, orang yang cerdas adalah orang yang paham benar akan nilai sebuah waktu, karena sebelum baligh, dia hanya seorang anak yang umurnya tidak begitu diperhitungkan. Yang dipikirkannya hanya bermain dan mainan, dia tidak memiliki arah yang jelas, dan belum ada kemampuan akal maupun okol yang mencukupi, sehingga dia harus bergantung kepada orang lain. Oleh karena itu, bila sudah baligh, hendaklah dia sadar bahwa masa itu merupakan masa perjuangan melawan hawa nafsu dan menuntut berbagai ilmu pengetahuan, terutama Ilmu Agama.


Lalu, bila dia sudah dikaruniai anak, maka hendaklah dia sadar bahwa itulah masanya berusaha dan bekerja, sambil menjalin hubungan baik dengan orang-orang di sekitarnya, yang akan berguna baginya dalam mengarungi sisa umurnya, baik dalam urusan dunia maupun akhiratnya.
Lalu, bila dia sudah sampai umur 40 tahun, maka selesailah puncak hidupnya, ia telah menghabiskan masa kuatnya, dan tidaklah tersisa baginya, kecuali keadaan dirinya yang terus menurun. Maka, hendaklah di usia tersebut, dia menjadikan sebagian besar perhatiannya untuk ‘bekal akhirat’, dan mempersiapkan diri untuk detik perpisahan.
Jika kita merenungi hal ini, sebenarnya pesan ini juga harusnya diterapkan oleh mereka yang masih muda, karena kematian bisa datang dengan tiba-tiba.
Lalu, apabila seseorang sampai pada umur 60 tahun, itu artinya Allah sudah memberinya banyak tenggang waktu, dan dia telah menghabiskan waktu tersebut, maka hendaklah dia fokus total untuk mengumpulkan ‘bekal akhiratnya’, apalagi bila kekuatannya semakin lemah. Dan semakin tua umurnya, hendaklah dia semakin giat dalam amalnya.
Lalu, apabila dia sudah masuk umur 80 tahun, maka yang tersisa baginya hanyalah pilihan ‘perpisahan’, karena kehidupan sudah sangat berat baginya, jasadnya sudah rapuh dan banyak penyakit terus menggerogotinya. Ketika itu tidaklah tersisa dari umurnya kecuali rasa penyesalan atas kelalaiannya, karena kalaupun dia saat itu masih mampu beribadah, dia tidak mampu melakukannya kecuali dengan keadaan yang sudah sangat lemah, payah, dan kurang maksimal.
              Semoga Allah menjadikan kita selalu ingat akan hakekat kehidupan ini, menjauhkan kita dari terlelap dalam kelalaian, dan memberikan kita taufiq untuk bisa beramal saleh, yang akan menjadikan kita aman dari penyesalan di hari ‘perpindahan’ itu, Sungguh Dialah Yang Maha Pemberi Taufiq.
              Para pembaca yang terhormat, bila kita telah menyadari hal ini, bahwa kita tidak akan lama di dunia ini, bahwa langkah kita terpaksa akan terhenti dengan kematian, padahal umur alam semesta mungkin masih akan panjang, maka tidakkah kita ingin memiliki pahala yang terus mengalir ke liang kubur kita hingga hari kiamat?!
             Penulis yakin kita semua menginginkannya, oleh karena itu, hendaklah kita memperbanyak 3 amalan berikut ini, atau paling tidak jangan sampai melewatkannya dalam hidup ini. Amalan-amalan tersebut terkandung dalam sabda Nabi –shollallohu alaihi wasallam– yang sangat masyhur berikut ini:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Bila manusia mati, putuslah semua amalnya kecuali 3 amalan: Sedekah Jariyah (wakaf), atau ilmu agama yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya. [HR. Muslim: 1631]
Sekian, semoga bermanfaat.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين
Madinah, 18 Rabiul Awal 1435 H / 19 Januari 2014 M
Sumber : https://addariny.wordpress.com/2014/01/19/hakekat-dunia/





Kemewahan itu Membinasakan…

Syeikh Utsaimin –rohimahulloh– mengatakan:
Sungguh, semakin manusia bertambah dalam kemewahan, dan semakin terbuka terhadap yang lain, maka keburukan-keburukan juga semakin terbuka bagi mereka. Sungguh, kemewahan itulah yang membinasakan manusia, karena bila seseorang sudah mementingkan kemewahan dan pemanjaan jasadnya, ia tentu lalai dalam memanjakan hatinya, sehingga jadilah keinginan terbesarnya memanjakan jasad tersebut, padahal jasad itu akan berakhir dengan belatung dan kebusukan. Ini musibah.
Inilah yang membinasakan manusia hari ini. Hampir tidak kamu dapati seorang pun, kecuali ia mengatakan: bagaimana rumah kita, apa mobil kita, apa karpet kita, apa makanan kita? Sampai-sampai orang yang menelaah dan belajar ilmu agama pun, sebagian ada yang belajar untuk meraih pangkat atau kedudukan yang bisa menyampaikannya kepada kenikmatan dunia. Sepertinya manusia diciptakan bukan untuk tujuan yang agung, dunia dan kenikmatannya hanyalah wasilah (perantara)! semoga Allah menjadikan kami dan kalian dapat menjadikan dunia sebagai wasilah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rohimahulloh– mengatakan: “Hendaknya seseorang menggunakan hartanya, seperti ia menggunakan himar untuk tunggangan, seperti ia menggunakan toilet untuk buang hajat”. Lihatlah bagaimana orang-orang yang tahu (hakekat) harta, orang-orang yang tahu kedudukan harta.
Jangan jadikan harta sebagai tujuan utama (hidup)mu! Tunggangilah harta dunia, karena bila kamu tidak menungganginya, harta itu yang akan menunggangimu, sehingga jadilah tujuan (hidup)mu harta. Oleh karena itu, kita katakan: Sungguh, semakin terbuka harta dunia untuk manusia dan mereka jadi (terlena) melihat harta itu, maka mereka akan rugi dari akheratnya sebanding dengan keuntungan yang diperoleh dari dunianya.
Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda: 
 “
“Demi Allah, bukan kefakiran yang aku takutkan terhadap kalian, tapi yang aku takutkan terhadap kalian adalah; bila dunia dibukakan untuk kalian, sehingga kalian saling berlomba mendapatkannya, sebagaimana umat sebelum kalian saling berlomba di dalamnya, lalu dunia itu membinasakan kalian sebagaimana dunia itu telah membinasakan mereka.
Dan benarlah Rosul –shollallohu alaihi wasallam-, inilah yang membinasakan manusia sekarang ini.
Yang membinasakan manusia hari ini adalah saling berlomba mendapatkan dunia, hingga seakan mereka diciptakan untuk dunia, bukan dunia diciptakan untuk mereka. Sehingga mereka bekerja demi dunia yang diciptakan untuk mereka, dan meninggalkan perkara yang mereka diciptakan untuknya. Ini merupakan keadaan yang terbalik, semoga Allah menyelamatkan kita (dari keadaan ini).
فإن الناس كلما ازدادوا في الرفاهية, وكلما انفتحوا على الناس, انفتحت عليهم الشرور. إن الرفاهية هي التي تدمر الإنسان, لأن الإنسان إذا نظر إلى الرفاهية وتنعيم جسده, غفل عن تنعيم قلبه، وصار أكبر همه أن ينعم هذا الجسد الذي مآله إلى الديدان والنتن, وهذا هو البلاء, هذا هو الذي ضر الناس اليوم, لا تكاد تجد أحدا إلا ويقول: وش قصرنا , وش سيارتنا, وش فرشنا, وش أكلنا, حتى الذين يقرؤون العلم ويدرسون العلم بعضهم إنما يدرس من أجل أن ينال رتبة أو مرتبة يتوصل بها إلى نعيم الدنيا. ما كأن الإنسان خلق لأمر عظيم، والدنيا ونعيمها إنَّما هو وسيلة فقط، نسأل الله أن يجعلنا وإياكم أن نستعملة وسيلة. 
قال شيخ الإسلام ابن تيمية -رحمه الله-: “ينبغي للإنسان أن يستعمل المال كما يستعمل الحمار للركوب، وكما يستعمل بيت الخلاء للغائط”.
وش اللي يعرفون المال, يعرفون قدره. لا تجعل المال أكبر همك، اركب المال، فإن لم تركب المال؛ ركبك المال، وصار همك هو الدنيا.
ولهذا نقول: إنَّ الناس كلما انفتحت عليهم الدنيا، وصاروا ينظرون إليها؛ فإنَّهم يخسرون من الآخرة بقدر ما ربحوا من الدنيا، قال النبي عليه الصلاة والسلام: (والله ما الفقر أخشى عليكم، وإنَّما أخشى عليكم أن تُفْتَح عليكم الدنيا، فتنافسوها كما تنافسها من قبلكم، فتهلككم كما أهلكتهم)، وصدق الرسول -عليه الصلاة السلام- هذا الذي أهلك الناس اليوم. الذي أهلك الناس اليوم التنافس في الدنيا وكونهم كأنما خُلِقوا لها، لا أنَّها خُلِقت لهم، فاشتغلوا بما خُلِق لهم عما خُلِقوا له، وهذا من الانتكاس -نسأل الله العافية-
===========================
Kemewahan memang dapat membinasakan manusia, ia telah banyak menjerumuskan umat-umat terdahulu dalam kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran dakwah para rosul –alaihimussalam-, maka hendaklah kita berhati-hati dan mewaspadai hal ini.
Renungkanlah firman-firman Allah berikut ini:
وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ (116) وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ (117)
Orang-orang yang zalim itu mementingkan kemewahan yang ada pada mereka, dan mereka itu orang-orang yang berdosa. Rabbmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. (Hud: 116-117)
وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا (16)
Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan mereka yang hidup mewah di negeri itu (agar taat kepada Allah), maka mereka pasti durhaka di dalamnya, sehingga pantas berlaku baginya ketentuan (hukuman) Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (Al-Isro’: 16)
فَلَمَّا أَحَسُّوا بَأْسَنَا إِذَا هُمْ مِنْهَا يَرْكُضُونَ (12) لَا تَرْكُضُوا وَارْجِعُوا إِلَى مَا أُتْرِفْتُمْ فِيهِ وَمَسَاكِنِكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْأَلُونَ (13) قَالُوا يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ (14)
Maka, ketika mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka lari kalang-kabut dari negerinya itu. (Dikatakan kepada mereka): Janganlah kalian lari kalang-kabut, kembalilah kepada kemewahan yg diberikan kepada kalian dan ke rumah-rumah kalian, agar (nantinya) kalian dapat ditanya. Mereka berkata: “Betapa celaka kami! sungguh kami orang-orang yang zalim”. [Al-Anbiya’: 12-14]
وَقَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِلِقَاءِ الْآخِرَةِ وَأَتْرَفْنَاهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا مَا هَذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُونَ مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُونَ (33)
Para pemuka kaumnya (Nabi Hud) yang kafir, yang mendustakan pertemuan hari akhir, dan yang telah Kami mewahkan dalam kehidupan dunia mengatakan: “Orang ini hanyalah manusia seperti kalian, dia makan dari apa yang kalian makan, dan minum dari apa yang kalian minum”. (Al-Mu’minun: 33)
بَلْ قُلُوبُهُمْ فِي غَمْرَةٍ مِنْ هَذَا وَلَهُمْ أَعْمَالٌ مِنْ دُونِ ذَلِكَ هُمْ لَهَا عَامِلُونَ (63) حَتَّى إِذَا أَخَذْنَا مُتْرَفِيهِمْ بِالْعَذَابِ إِذَا هُمْ يَجْأَرُونَ (64) لَا تَجْأَرُوا الْيَوْمَ إِنَّكُمْ مِنَّا لَا تُنْصَرُونَ (65) قَدْ كَانَتْ آيَاتِي تُتْلَى عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ تَنْكِصُونَ (66) مُسْتَكْبِرِينَ بِهِ سَامِرًا تَهْجُرُونَ (67) 
Tetapi hati orang-orang kafir itu dalam kesesatan dari (memahami kenyataan) ini, dan mereka mempunyai kebiasaan banyak mengerjakan perbuatan-perbuatan buruk yang terus mereka lakukan. Sehingga apabila Kami timpakan azab kepada orang-orang yang hidup mewah di antara mereka, seketika itu mereka memekik minta tolong.
(Dikatakan kepada mereka): Janganlah kalian memekik minta tolong pada hari ini. Karena kalian tidak akan mendapat pertolongan dari Kami. Sungguh, ayat-ayat-Ku selalu dibacakan kepada kalian, tapi kalian selalu berpaling ke belakang, dengan menyombongkan diri dan mengucapkan banyak perkataan keji terhadapnya di waktu kamu bercakap-cakap di malam hari. (Al-Mu’minun: 63-67)
وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ (34) وَقَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (35)
Setiap Kami mengutus seorang pemberi peringatan ke suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sungguh, kami mengingkari apa yang kalian diutus untuk menyampaikannya”. Mereka juga mengatakan: “Kami punya lebih banyak harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sama sekali tidak akan di azab” (Saba’: 34-35)
وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ (23) قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَى مِمَّا وَجَدْتُمْ عَلَيْهِ آبَاءَكُمْ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ (24) فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (25)
Demikianlah, setiap Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum kamu ke suatu negeri, mereka yang hidup mewah di negeri itu selalu berkata: “Sungguh, kami mendapati nenek-moyang kami menganut suatu agama. Dan sungguh, kami sekedar pengikut jejak-jejak mereka”.
(Rasul itu) berkata: “Apakah (kalian akan mengikuti mereka juga), sekalipun aku membawa untuk kalian (agama) yang lebih lurus, daripada apa yang kalian dapati dari agama yang dianut oleh nenek-moyang kalian?!”
Mereka menjawab: “Sungguh kami mengingkari agama yang kalian diutus untuk menyampaikannya”.
Karena itu, Kami binasakan mereka. Maka, perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (kebenaran). (Az-Zukhruf: 23-25)
وَأَصْحَابُ الشِّمَالِ مَا أَصْحَابُ الشِّمَالِ (41) فِي سَمُومٍ وَحَمِيمٍ (42) وَظِلٍّ مِنْ يَحْمُومٍ (43) لَا بَارِدٍ وَلَا كَرِيمٍ (44) إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُتْرَفِينَ (45) 
Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya mereka itu? Mereka dalam (siksaan) angin yang sangat panas dan air yang mendidih, dalam naungan asap yang hitam, tidak sejuk dan tidak menyenangkan. Sungguh, mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah. (Al-Waqi’ah: 41-45)
Memang, ketika orang sampai pada taraf ‘kemewahan’, maka kemewahan tersebut akan menyeretnya ke dalam tindakan tinggi hati, memandang remeh orang lain, kurang menghormati orang di sekitarnya, dan kurang merendah kepada Penciptanya. Bahkan mungkin dia lupa sama-sekali dengan Allah Sang Pencipta, karena keadaannya yang dapat melakukan ‘apapun’ yang dia inginkan.
Sehingga ia akan menolak nasehat apapun dan dari mana pun, karena ia merasa tidak memerlukan orang lain, bahkan justru orang lainlah yang memerlukan dia. Dan inilah ‘perangkap mematikan’ hidup mewah, dengan inilah umat-umat terdahulu dibinasakan, sebagaimana ditegaskan dalam ayat-ayat suci di atas.
Oleh karena itu, hendaklah kita menjauhi hidup mewah, dan berusaha untuk selalu hidup sederhana. Bila ada harta melimpah, maka hendaklah kita gunakan untuk amal-amal kebaikan, seperti: membantu dakwah Islam, menjamin kehidupan para da’i, memberi sumbangan wakaf, menyantuni anak yatim, memberi fakir miskin, membantu mereka yang membutuhkan, membangun masjid, mendirikan pondok, sekolah, dan seterusnya.
Ingatlah, bahwa itu semua tidak akan terbuang sia-sia, tapi Allah akan simpan dan lipat-gandakan pahalanya di sisi-Nya, sehingga menjadi tabungan pahala bagi pelakunya di akherat kelak, dan itu akan menjadi kenikmatan yang abadi selamanya.
Jangan sampai kita susah-payah mengumpulkan harta dunia, namun akhirnya harta tersebut hanya menumpuk untuk dibagi ketika sudah menjadi warisan. Sungguh sangat merugi orang seperti ini, dia yang susah-payah di dunia dalam mengumpulkannya, tapi ternyata ahli warisnya yang menikmatinya. Dia yang mempertanggung-jawabkan harta tersebut di akhirat kelak, padahal dia belum sempat menikmati hasilnya di dunia.
Semoga Allah menyelamatkan kita dari gaya hidup mewah ini, dan semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua, sehingga kita dapat memanfaatkan kenikmatan apa pun yang dititipkan Allah kepada kita untuk meraih ridho dan kemuliaan di sisi-Nya. Sungguh, Allah ta’ala itu dekat, Maha Mengetahui, Maha Mendengar, dan Maha Kuasa mengabulkan doa.
Wallohu a’lam, semoga bermanfaat.
وصلى الله وسلم وبارك على عبد الله ورسوله نبينا محمد, وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين, والحمد لله رب العالمين
Sumber : https://addariny.wordpress.com/2014/01/09/kemewahan-itu-membinasakan/